zonapers.com, Sukabumi.
Mereka yang setiap hari hidup di wilayah Jakarta pasti merasakan sulitnya mendapatkan udara yang bersih. Polusi ada Dimana-mana. Indeks Kualitas Udara (AQI) pada waktu subuh hari Senin tanggal 12 Januari 2026 di Jakarta rata-rata misalnya 50, relatif baik. Itu merupakan angka rerata dari 42 stasiun pemantau yang ada. Tetapi dalam beberapa jam, ketika aktivitas warga mulai tinggi, kendaraan sudah mulai bergerak dari wilayah pinggiran masuk ke tengah kota, maka kadarnya semakin meningkat.

Pernah tercatat mencapai skor 86 di pusat kota, jauh di atas batas normal. Udara tidak sehat. Warga diimbau memakai masker, kurangi aktivitas di luar rumah. Bagi mereka yang sensitif maka berada di tengah polusi dapat memicu sakit paru-paru, ditandai dengan batuk, dsb. Menurut studi International Journal of Enviromental Research and Public Health (2023) kadar PM2.5 tahunan Jakarta mencapai 52, tiga kali lipat dar NAAQS (National Ambient Air Quality Standards), berkontribusi pada beban Kesehatan dan ekonomi sebesar 2,9 milyar dollar AS pertahun.
NAAQS ini mengukur 6 polutan utama di udara luar ruang, meliputi Ozon, Partikel Debu, Karbon Monoksida, Sulfur Dioksida, Nitrogen Dioksida, dan Timbal. Ukuran sehat adalah 0-50, sedang 51-100, tidak sehat 101-200, sangat tidak sehat 201-300, dan berbahaya bila lebih dari 300.

Di tahun 2025 lalu skornya 165 atau kategori tidak sehat, bahkan sempat mencapai skor AQI 250 (sangat tidak sehat) di sejumlah titik seperti di Bundaran HI dan Kelapa Gading. Jakarta pernah menjadi kota dengan polusi tertinggi di dunia. Padahal berbagai upaya dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seperti memperbanyak bus listrik, mobil listrik, menambang gerbong KRL, dan menambah fasilitas taman hijau. Tetapi udara tertolong bersih bila hujan turun beberapa jam dalam sehari seperti November dan Desember lalu.
Kalau Anda penglaju yang menggunakan KRL, sebagian besar penumpang menggunakan masker untuk pencegahan polusi udara, termasuk dari ratusan manusia yang berada di dalam gerbong yang sama pada kurun waktu tertentu. Begitu pula penumpang TransJakarta. Berjalan kaki di trotoar yang bagus seperti di sepanjang Jalan Thamrin, Jalan Sudirman, atau Kawasan CBD, tidak lagi nyaman kalau bicara kualitas udara akibatnya banyaknya zat beracun yang keluar dari knalpot kendaraan. Tetapi mereka yang beraktivitas di pasar, terminal, banyak sekali yang malas memakai masker. Tidak praktis, tetapi juga karena masker tidak murah, satu keping harganya antara Rp 3.000 sampai Rp 5.000. Hampir sama dengan ongkos naik KRL.

Masyarakat pada umumnya harus mengesampingkan bahaya dari polusi itu. Mereka yang bekerja untuk menghidupi rumah tangga, berjuang khususnya secara fisik, melupakannya. Yang memakai kendaraan umum seperti KRL, MRT, Transjakarta, masih “lumayan beruntung” dibanding mereka yang menggunakan sepeda motor dari wilayah Bekasi, Tangerang, Depok, puluhan kilometer pergi pulang dalam sehari. Sebab pengendara itu menghirup langsung polutan di sepanjang jalan yang dilewati, entah itu asap knalpot, debu,dan mikroplastik yang bertebaran. Berhemat meski akan menabung bahan penyakit.

Dalam kondisi seperti itu maka kebutuhan menghirup oksigen murni menjadi “sesuatu” bagi kalangan menengah. Pantai dan gunung menjadi tempat healing karena udaranya dianggap lebih bersih dari pusat kegiatan di kota. Tidak heran setiap akhir pekan daerah sekitar Puncak, Lembang, Pelabuhan Ratu, Pantai Anyer, ramai pengunjung. Hanya saja banyaknya kendaraan wisatawan malah membuat kebersihan udara berkurang. Sudah capek, mengeluarkan biaya, eh ternyata udaranya terpolusi juga.
Itu sebabnya terapi hiperbarik, suplai oksigen murni, kian marak. Di kota-kota seperti Surabaya, Semarang, Bandung, apalagi Jakarta, muncul iklannya di media sosial seperti Instagram, Facebook, atau Tiktok. Padahal dulu di Jakarta misalnya fasilitas itu hanya dimiliki RSAL Mintoharjo di Pejompongan atau RS Pertamina, karena dua rumah sakit itu memang berkaitan dengan ruang lingkup kerja.
RSAL menyediakan untuk penyelam militer, sedang RS Pertamina untuk penyelam di lingkungan pengeboran minyak lepas pantai. Perawatan hiperbarik di tabung diperuntukkan bagi mereka yang baru melakukan penyelaman dalam waktu tertentu atau kedalaman tertentu, karena asupan oksigen ke pembuluh darah, khususnya di otak berkurang. Wajib dilakukan agar kondisi fisik para penyelam itu kembali normal.
Sementara terapi hiperbarik yang sekarang makin ramai, lebih pada suplai oksigen murni untuk menyisihkan polusi udara yang sudah masuk ke aliran darah, yang dapat menyebabkan penyakit tertentu. Atau mengembalikan fungsi tubuh tertentu yang terlanjur “rusak” seperti hipertensi, kanker, impotensi, diabetes, luka bakar, pasca operasi, atau sebagai bentuk perawatan, misalnya pelambatan penuaan, membuat kulit tetap kinclong.
Saya mengunjungi Oxybaric Centre Steve Sugita, di Cijambu, Kadudampit, Sukabumi, tanpa tujuan yang jelas, tetapi karena saya juga terkena diabetes dalam beberapa tahun ini. Mendengar cerita kawan, saya ingin mencoba fasilitas itu. Saya sudah mendengar terapi hiperbarik ini saat meliput dan diajak latihan olahraga selam di tahun 1980an, jadi sedikit tahu. Tetapi menjalaninya belum pernah mencoba.
Saya targetkan ikut 7 kali terapi, Jumat pagi hingga Minggu pagi. Berangkat sehabis subuh dari Ciputat, dengan berkendaraan santai, sekitar 08.15 saya tiba di fasilitas tersebut. Setelah melapor ke resepsionis karena sudah dibookingkan teman, sarapan dan rehat saya mulai terapi pukul 09.00 pagi. Setelah itu yang kedua pukul 13.00 dan terakhir pukul 16.00.
Saat akan masuk ke tabung, saya dibriefing. Saat di dalam dan oksiden murni dipompakan, telinga akan berdenging, seperti kalau kita naik pesawat di ketinggian 30.000an kaki. Agar tidak sakit, biasanya saya menutup mulut dan meniup sehingga kuping terasa plong. Sepuluh menit sebelum selesai, tekanan akan ditambah, dan telinga seperti berdenging berkali-kali.
Oleh petugas, kepada pasien diberikan tisu karena kemungkinan akan keluar cairan dari hidung, telinga, atau mulut. Sampai 7 kali ikut terapi, tisu yang saya kantongi tidak terpakai. Padahal ada pasien yang keluar cairan agak merah dari hidung atau seperti dahak dari mulut. Yang saya rasakan badan jadi mudah kretek-kretek di tangan, jemari, dan pergelangan lain. Alhamdulillah. ***
Saya menghabiskan waktu satu jam di dalam tabung baja dan kaca, ditutup rapat seperti pintu kapal selam atau brankas bank, dan bahkan setelah tutup diputar, masih diganjal palang besi. Tetapi di dalam disediakan tombol komunikasi, apabila pasien merasa tidak nyaman seperti sesak nafas atau kondisi mendesak.
Dalam brosur di media sosial, untuk membunuh waktu, pasien boleh membaca buku. Tidak bisa dari ponsel, harus disimpan di locker. Tidak boleh bawa apapun, hanya pakai kaus atau celana pendek ataupun training. Tubuh terbaring dan menatap langit-langit, saya sendiri tidur-tidur ayam saja. Coba berzikir, lama-lama mengantuk dan tidur pendek. Begitu bolak balik. Sampai di menit ke-50, petugas mengetuk-ngetuk kaca dan menyuruh tengkurap. Maksudnya agar semua cairan kotor yang terpengaruh masuknya oksigen murni, akan keluar dari mulut, hidung, ataupun telinga. Sebab intensitas penyaluran oksigen yang ditambah membuat kuping berdenging-denging selama 10 menit.
Setelah itu suplai oksigen dihentikan, tutup tabung dibuka, tempat tidur ditarik, pasien dikeluarkan. Bagaimana perasaanya? Saya merasa paru-paru lapang. Badan terasa enteng. Manfaat lain? Sulit digambarkan, kecuali nyaman dan merasa lebih sehat. Sampai dengan 7 kali terapi, itulah perasaan saya. Yang jelas tekanan darah yang awalnya 140/80 menjadi 120/80. Skor saturasi oksigen yang semula 97, setelah terapi akhir menjadi 99.
Tempat menginap di udara dingin, antara 20 hingga 23 derajat Celsius, di lereng bukit dengan ketinggian sekitar 800 meter dari permukaan laut, ikut memberi kesegaran tubuh. Tidak ada suara bising seperti di kota, sangat sedikit polusi udara, memberi ketenangan pikiran.
Maka saya berjanji pada diri sendiri ya kalau bisa 2-3 bulan sekali saya akan ke sini. Insya Allah. Tidak perlu seperti Pak Steve Sugita, pemilik Oxybaric Centre, yang menetap di fasilitas miliknya sehingga sewaktu-waktu bisa masuk tabung dan paling tidak satu kali dalam seminggu. Terapi oksigen murni 7-9 kali (seperti dianjurkan) mumpung badan belum sakit. Anggap saja charging bateri. Memelihara kesehatan, sekaligus mencegah penyakit. Umur manusia tidak ada yang tahu, tetapi memilihara tubuh pemberian Tuhan merupakan kewajiban manusia. Saya memandangi tagline Oxybaric Centre Steve Sugita, You Can Life Beyond 100 Years. Saya tidak mau menjadi Chairil Anwar, yang menyatakan ingin hidup 1000 tahun lagi. Biarlah kita menjalani hidup dengan keyakinan dan cara masing-masing.
Hendry CH Bangun.
Redaksi.

































































