zonapers.com | Jakarta.
Oleh: Bang Gorilla (Pemimpin Redaksi).
TransJakarta kerap digadang-gadang sebagai simbol keberhasilan transportasi publik Ibu Kota. Namun, realita di lapangan berkata lain. Tim Redaksi zonapers.com membuktikannya melalui uji coba langsung menggunakan Bus TransJakarta seharian penuh, Selasa (23/12/25).

Perjalanan dimulai dari Halte Puri Beta, Ciledug, menuju CSW Blok M. Sejak kaki menginjakkan di halte, persoalan klasik langsung terasa: penumpang membludak, antrean tak manusiawi, dan bus datang dalam kondisi sudah penuh. Alhasil, perjalanan harus ditempuh dengan berdiri berdesakan, bukan sekali, tapi nyaris di semua rute.
Dari CSW ke Kota Tua, lanjut ke Grogol, menuju Pinang Ranti, hingga mencoba rute Kampung Rambutan dan Pulogadung, situasinya nyaris tanpa jeda: sesak, panas, dan melelahkan. Kursi menjadi kemewahan, sementara kenyamanan hanya jargon di atas kertas.
Ironisnya, di tengah kampanye “beralih ke transportasi publik”, fasilitas dasar justru terabaikan. Pendingin udara banyak yang tak maksimal, halte terasa sumpek dan tidak ramah, dan akses tangga yang panjang serta curam membuat penumpang kelelahan bahkan sebelum perjalanan dimulai. Bagi lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas, kondisi ini jelas tidak berpihak.
Pertanyaan kritis pun tak bisa dihindari:
ke mana sebenarnya aliran anggaran besar Pemprov DKI Jakarta untuk TransJakarta?
Apakah sekadar habis untuk operasional, sementara kenyamanan dan keselamatan penumpang dikesampingkan?

Jika TransJakarta benar-benar menjadi tulang punggung mobilitas warga, maka kondisi padat berlebih ini adalah alarm kegagalan pengelolaan. Penumpang bukan ternak yang bisa dipaksa berdiri berdesakan setiap hari. Transportasi publik seharusnya memuliakan manusia, bukan sekadar mengangkut massa.
Uji coba ini berujung pada satu kesimpulan tegas: TransJakarta belum layak disebut transportasi publik yang nyaman. Dengan anggaran besar, ekspektasi publik tinggi, namun realitasnya masih menyisakan kekecewaan struktural.
Jika Pemprov DKI terus menutup mata, jangan heran bila publik kembali ke kendaraan pribadi. Bukan karena enggan naik transportasi umum, tetapi karena dipaksa lelah oleh sistem yang setengah hati.
TransJakarta butuh evaluasi total—bukan pencitraan, bukan seremonial.
Redaksi zonapers.com


































































