zonapers.com, Ciputat Tangerang Selatan.
Peristiwa terganggunya aktivitas penerbangan akibat abu vulkanik menjadi pengingat bahwa tidak semua rencana manusia dapat berjalan sesuai kehendaknya, Senin (7/09/2026).
Di balik ribuan perjalanan yang tertunda, tersimpan pelajaran tentang pentingnya menerima keadaan dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa.
Hendry Ch Bangun, dalam catatan reflektifnya bertajuk Kalau Alam Sudah Menegur, menilai bahwa manusia kerap merasa seluruh rencana akan berjalan sempurna karena telah dipersiapkan dengan matang.
Namun, faktor di luar kendali sering kali mengubah semuanya dalam sekejap.
Penutupan operasional Bandara Soekarno-Hatta akibat dampak abu vulkanik menyebabkan puluhan ribu penumpang harus menunda perjalanan.
Berbagai agenda, mulai dari urusan keluarga, bisnis, hingga perjalanan ibadah dan wisata, terpaksa dibatalkan atau dijadwal ulang.
Sebagian memilih meminta pengembalian dana tiket dan beralih ke moda transportasi lain, sementara yang lain menunggu kepastian dibukanya kembali penerbangan.
Menurut Hendry, setiap musibah selalu menghadirkan dua sisi. Di saat banyak orang mengalami kerugian, ada pula pihak yang memperoleh manfaat ekonomi, seperti pengemudi transportasi daring, porter, hingga pelaku usaha makanan dan minuman di kawasan bandara yang mengalami peningkatan pendapatan.
Ia mengutip pandangan penyair WS Rendra bahwa bencana dan keberuntungan merupakan dua sisi dari kehidupan yang bergantung pada cara manusia memaknainya.
Dalam tulisannya, Hendry juga membagikan pengalaman pribadi ketika tanpa sengaja berangkat ke bandara hampir tiga jam lebih awal dari jadwal penerbangan.
Kesalahan melihat waktu justru memberinya kesempatan untuk beristirahat, menyiapkan materi presentasi, dan merenungkan kesibukan yang selama ini dijalani.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa jeda yang tidak direncanakan terkadang merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri dan mengembalikan keseimbangan hidup.
Hendry mengajak masyarakat untuk tidak semata-mata melihat gangguan perjalanan sebagai musibah, tetapi juga sebagai momentum introspeksi.
Menurutnya, rutinitas yang padat sering membuat manusia lupa menjaga kesehatan, memperhatikan keluarga, dan menikmati hidup.
Ia juga menyoroti perubahan gaya hidup generasi muda yang kini lebih memilih menikmati waktu bersama keluarga, berlibur, atau beribadah saat usia masih produktif dibanding menunggu masa pensiun.
Mengakhiri tulisannya, Hendry mengingatkan bahwa manusia tidak pernah berhenti belajar sepanjang hayat.
Setiap peristiwa, termasuk ketika alam menunjukkan kekuatannya, dapat menjadi pelajaran untuk lebih bijaksana, lebih bersyukur, dan menyadari bahwa pada akhirnya segala sesuatu berada di luar kendali manusia.
Redaksi




































































