Whip Pink, Industri, Dan Tanggung Jawab Negara: Kolaborasi Sistemik BNN–Polri–BPOM–Kemenkes Jadi Kunci

- Jurnalis

Jumat, 6 Februari 2026 - 11:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

zonapers.com, Jakarta.

Oleh:
Kompol Dr (C) Sandy Budiman, SH., SIK., M.Si
Kaur Rapkum Subbid Bankum Bidkum Polda Metro Jaya

Munculnya fenomena penyalahgunaan Whip Pink (nitrous oxide/N₂O) menjadi alarm serius bagi negara. Produk yang sah digunakan dalam industri dan medis ini, di sisi lain, disalahgunakan untuk efek euforia yang berisiko tinggi bagi kesehatan publik. Komisi III DPR RI menegaskan, persoalan ini tidak dapat diselesaikan secara sektoral, melainkan menuntut kolaborasi sistemik lintas kementerian dan lembaga.
Isu Whip Pink menempatkan negara pada persimpangan: melindungi industri kuliner yang legal sekaligus mencegah penyalahgunaan zat psikoaktif yang belum tercakup eksplisit dalam UU Narkotika No. 35 Tahun 2009, Jakarta, ( 6/2/26 ).


Dimensi Kuliner: Legal dan Produktif, Tapi Perlu Pengawasan
Nitrous oxide merupakan bagian dari inovasi kuliner modern—digunakan dalam whipped cream, dessert, dan bakery. Masalah muncul ketika:
Penjualan dilakukan bebas tanpa verifikasi,
Tidak ada pembatasan volume,
Distribusi daring tanpa kontrol tujuan penggunaan.

Baca Juga :  Babinsa Koramil Mapurujaya Bersama Aparat Gabungan Gelar Sweeping Penumpang Kapal Laut di Mimika


Kondisi ini berisiko memicu dua ekstrem: kriminalisasi industri yang sah atau pembiaran penyalahgunaan. Negara harus hadir di tengah dengan kebijakan presisi.
Kerangka Kolaborasi Sistemik Antarinstansi.


Penanganan Whip Pink harus dibangun sebagai satu orkestrasi kebijakan, bukan sekadar koordinasi seremonial.


1) Badan Narkotika Nasional (BNN)
Badan Narkotika Nasional
Mengembangkan early warning system untuk zat psikoaktif non-narkotika,
Menyusun kajian risiko adiksi dan dampak neurofisiologis,
Memberi rekomendasi pengendalian berbasis efek dan risiko, bukan sekadar daftar zat.


2) Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri)
Kepolisian Negara Republik Indonesia
Deteksi dini pola distribusi menyimpang,
Penindakan berbasis perilaku penyalahgunaan,
Menjamin kepastian hukum agar aparat tidak terjebak grey area.


3) Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)
Badan Pengawas Obat dan Makanan
Pengetatan izin edar dan pelabelan peringatan kesehatan,
Pelacakan rantai distribusi N₂O untuk pangan,
Audit berkala pada penjual dan distributor.

Baca Juga :  Kapolri dan Menteri P2MI Bersinergi Lindungi Pekerja Migran Indonesia


4) Kementerian Kesehatan (Kemenkes)
Kementerian Kesehatan
Menetapkan standar medis & kesehatan publik terkait paparan N₂O,
Mengintegrasikan Whip Pink dalam surveilans kesehatan (IGD, Puskesmas, RS),
Memimpin pendekatan preventif–edukatif dan rehabilitatif bagi pengguna.
Satu Data, Satu Kebijakan
Kolaborasi ini perlu diikat oleh mekanisme konkret:
Basis data nasional distribusi N₂O,
Standar pembelian industri kuliner (verifikasi usaha & batas volume),
Pembatasan ritel bebas dan verifikasi usia,
Audit lintas instansi berbasis risiko.
Hasilnya: industri terlindungi, penyalahgunaan terdeteksi dini, dan penegakan hukum memiliki kepastian.
PR Legislasi DPR-RI
Untuk memperkuat orkestrasi kebijakan, DPR didorong:
Menyesuaikan UU Narkotika ke pendekatan effect-based regulation,
Menambahkan klausul Zat Psikoaktif Baru dengan kewenangan pembatasan sementara,
Menyatukan payung hukum narkotika–pangan–kesehatan agar tidak terfragmentasi.

Penutup
Kasus Whip Pink adalah ujian kedewasaan regulasi Indonesia. Negara dituntut adaptif, presisi, dan sistemik—melindungi publik tanpa mematikan industri, serta menindak penyalahgunaan tanpa kriminalisasi buta.

SB-007.

Redaksi.

Berita Terkait

Resmi Pimpin Polda Jabar, Irjen Pol. Hengki Janji Lanjutkan Program Baik dan Bereskan PR
Certificate of Attedence Dalam Case Gibran Rakabumi
Polda Jabar Laksanakan Supervisi Operasi Antik Lodaya 2026 untuk Optimalisasi Penanggulangan Narkoba
Robinhood, Sapi Asal Sumedang Berbobot 1,4 Ton Taklukkan Kontes Nasional Piala Presiden 2026.
Hukum sebagai Panglima, Bukan Panglima yang Menghukum
Kesiapsiagaan Personel Ops Antik Lodaya 2026, Polda Jabar Pastikan Pelaksanaan Operasi Berjalan Optimal.
Ketua DPRD Sumedang Pastikan Pilkades Digital Serentak, Digelar 28 Oktober 2026, Di 92 Desa, 424 TPS.
Cikoneng Kulon Bersiap Maju, Sunjaya Usung ISTIQOMAH.

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 16:00 WIB

Resmi Pimpin Polda Jabar, Irjen Pol. Hengki Janji Lanjutkan Program Baik dan Bereskan PR

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:54 WIB

Certificate of Attedence Dalam Case Gibran Rakabumi

Selasa, 13 Oktober 2026 - 14:04 WIB

Polda Jabar Laksanakan Supervisi Operasi Antik Lodaya 2026 untuk Optimalisasi Penanggulangan Narkoba

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:00 WIB

Robinhood, Sapi Asal Sumedang Berbobot 1,4 Ton Taklukkan Kontes Nasional Piala Presiden 2026.

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:31 WIB

Hukum sebagai Panglima, Bukan Panglima yang Menghukum

Berita Terbaru

Berita

Certificate of Attedence Dalam Case Gibran Rakabumi

Selasa, 13 Okt 2026 - 14:54 WIB

Berita

Hukum sebagai Panglima, Bukan Panglima yang Menghukum

Senin, 12 Okt 2026 - 17:31 WIB