Harga TBS Anjlok, Pupuk Mahal Dan Langka,Petani Sawit Malas Panen 

- Jurnalis

Rabu, 13 Juli 2022 - 19:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

zonapers.com, TAPTENG – Petani sawit mulai menjerit karena anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit, di Kecamatan Angkola Sangkunur Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) sehingga masyarakat petani kebun sawit yang menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian.

Warpin Pasaribu, petani sawit di Kecamatan Angkola Sangkunur, mengatakan (13/7/22) pada Media Zonapers.com, turunnya harga TBS sawit hingga ke level terendah Rp 600/kg di tingkat petani kebun sawit. Untuk harga Brondola sawit di level Rp 1200/kg.

Sementara itu, biaya upah untuk pemanen (Mendodos) sawit yang lokasi panennya di pinggir jalan Rp 250/kg, dan biaya panen masuk ke dalam area kebun berkisar Rp 450/kg.

Baca Juga :  Korlantas Apel Bersama Ojek Online

Sebelumnya, kata Warpin Pasaribu, harga TBS sawit, sempat mencapai level Rp 2970/kg dan sawit Brondolan Rp 4200/kg dan itu harus diakui masyarakat pernah menikmati harga TBS sawit yang cukup baik beberapa waktu yang lalu.

Kendati demikian,tentunya “diharapkan kebijakan pihak pemerintah segerah mengambil solusi untuk menetapkan harga TBS sawit”. Akibat anjlok harga TBS sawit, petani mulai was was dan berdampak langsung pada ekonomi masyarakat bawah, khususnya petani sawit.

“Disamping melemahnya daya beli masyarakat, dan ini disebabkan harga sawit yang anjlok” disamping harga pupuk tetap masih bertahan di level harga yang tinggi, sehinga petani sawit malas untuk panen, disamping tidak seimbang lagi dengan biaya panen, cetusnya.

Baca Juga :  Kabar Gembira! Rute Penerbangan Jakarta–Tasikmalaya PP Bakal Dibuka Lagi Akhir Oktober 2026

Warpin Pasaribi, juga menyanyangkan harga sawit turun, tetapi lihat harga pupuk masih tinggi dan langka, bagaimana pula petani bisa memupuk lagi, harga sawit tingkat petani sudah tidak imbang untuk membeli pupuknya, keluhnya.

Untuk mengatasi mahalnya harga pupuk, petani terpaksa menunda dulu atau tidak melakukan pemupukan karena tingginya harga pupuk organik.

“Karena dihimpit oleh harga pupuk yang mahal dan sulit di peroleh, yang di tambah lagi dengan kenaikan harga sembako yang sèmakin membebani masyarakat”, pungkas Warpin Pasaribu.

Berita Terkait

Sertijab Danyonif 301/PKS, Fajar Tekankan Sinergi TNI dan Rakyat.
DPRD Gelar RDPU, Tanah Timbul Tenggelam Jatigede Diselesaikan Lewat Pengadilan
Ketua DPRD Sumedang Hadiri Sertijab Danyonif 301/Prabu Kiansantang
Kartika Grup Tebar Kebaikan, 250 Porsi Makan Gratis Mengalir Setiap Hari
Asy-Syatibiiyyah Kunjungi DPRD Sumedang Kenalkan Profesi Sejak Dini.
Pemdes Bawo Ordua Salurkan BLT Tunai Tahap II hingga Desember 2026, Kades Imbau Warga Gunakan untuk Kebutuhan Keluarga
Memprihatinkan! Gedung Puskesdes Desa Makole Rusak Berat dan Tak Difungsikan, Warga Minta Pemerintah Turun Tangan
Kawal Indonesia Emas 2045, Lemhannas RI Ajak Insan Pers Bangun Jurnalisme Kebangsaan

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 15:42 WIB

Sertijab Danyonif 301/PKS, Fajar Tekankan Sinergi TNI dan Rakyat.

Kamis, 5 November 2026 - 14:19 WIB

DPRD Gelar RDPU, Tanah Timbul Tenggelam Jatigede Diselesaikan Lewat Pengadilan

Rabu, 4 November 2026 - 17:10 WIB

Ketua DPRD Sumedang Hadiri Sertijab Danyonif 301/Prabu Kiansantang

Senin, 2 November 2026 - 21:26 WIB

Kartika Grup Tebar Kebaikan, 250 Porsi Makan Gratis Mengalir Setiap Hari

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Asy-Syatibiiyyah Kunjungi DPRD Sumedang Kenalkan Profesi Sejak Dini.

Berita Terbaru