PP KAMMI Kritik Keterlibatan Kampus dalam Tambang: “Bukan Tugas Perguruan Tinggi!”

- Jurnalis

Jumat, 31 Januari 2025 - 07:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Zonapers – Jakarta

Polemik revisi Undang-Undang Mineral dan Batubara (RUU Minerba) semakin memanas! Kali ini, Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) dengan tegas menolak wacana keterlibatan perguruan tinggi dalam pengelolaan tambang.

Dalam diskusi publik bertajuk “Polemik RUU Minerba: Kampus Ikut Kelola Tambang?” yang digelar di Warung Upnormal Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (28/1/2025), Ketua Umum PP KAMMI, Ahmad Jundi Khalifatullah, menyampaikan kritik tajam terhadap revisi undang-undang tersebut.

“Kampus bukan tempat bisnis tambang! Tugas perguruan tinggi adalah mendidik, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat, bukan jadi pemain di industri ekstraktif,” tegas Jundi.

Diskusi ini menghadirkan berbagai pakar yang turut mengkritisi revisi UU Minerba. Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP), Bisman Bakhtiar, menilai revisi ini cacat formil karena tidak masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) dan minim partisipasi publik.

“Pembahasannya mendadak, tidak transparan, dan melanggar aturan dalam pembentukan undang-undang,” ungkap Bisman.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa secara kelembagaan, perguruan tinggi tidak cocok menjadi pengelola tambang.

Baca Juga :  KAPOLRES PIMPIN UPACARA KORP RAPORT KENAIKAN PANGKAT ANGGOTA POLRI POLRES SUMEDANG

“Perguruan tinggi negeri adalah bagian dari pemerintah, sedangkan swasta bersifat nirlaba. Keduanya tidak dirancang untuk berbisnis tambang,” tambahnya.

Kritik juga datang dari Koordinator Nasional Publish What You Pay (PWYP) Indonesia, Aryanto Nugroho, yang menyoroti pemberian Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) kepada UMKM secara prioritas.

Menurutnya, kebijakan ini hanyalah akal-akalan oligarki.

“Oligarki akan membiayai UMKM untuk mendapatkan izin tambang tanpa harus ikut lelang. Mereka bisa menikmati berbagai insentif pajak dengan cara ini,” ujarnya.

Alih-alih mengelola tambang, Aryanto menilai kampus seharusnya fokus pada riset dan pengembangan teknologi pertambangan.

“Kalau industri butuh teknologi, biar mereka pakai hak paten dari kampus. Itulah peran perguruan tinggi yang sesungguhnya!” tegasnya.

Juru Kampanye Jaringan Advokat Tambang (JATAM), Alfarhat Kasman, memperingatkan dampak buruk industri pertambangan, khususnya di sektor nikel di Maluku Utara.

“Kasus ISPA di daerah tambang nikel melonjak drastis, dari 200 kasus pada 2020 menjadi 1.000 kasus di 2023,” bebernya.

Baca Juga :  Redaksi Zonapers Kunjungi Irjen Pol Ronny Sompie Di Kantor Pusat Imigrasi

Ia juga menuding RUU Minerba sebagai strategi politik pemerintahan Prabowo-Gibran untuk memperkuat kekuasaan dan membalas budi kepada para pendukungnya.

“Sebanyak 60-70% kabinet terafiliasi bisnis, bahkan 15% terkait industri ekstraktif. Ini bukan kebijakan untuk rakyat, tapi gula-gula politik!” serangnya.

Ketua Bidang Kebijakan Publik PP KAMMI, Arsandi, menegaskan bahwa keterlibatan kampus dalam tambang melanggar UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Sebagai solusi, ia mengusulkan agar kampus berkontribusi melalui riset teknologi dan bekerja sama dengan perusahaan tambang dalam Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM).

“Kalau kampus ingin terlibat, sebaiknya melalui riset inovasi teknologi tambang berkelanjutan, bukan malah ikut terjun langsung mengelola tambang,” tutupnya.

Diskusi ini menjadi peringatan keras bahwa revisi UU Minerba harus dikaji ulang secara transparan dan melibatkan masyarakat luas. Jika tidak, dampak buruknya bisa dirasakan oleh lingkungan, ekonomi, dan masa depan generasi mendatang.

Apakah masyarakat siap menerima kampus sebagai pemain tambang, ataukah suara penolakan ini harus semakin lantang?

Pewarta; AP

Berita Terkait

Asy-Syatibiiyyah Kunjungi DPRD Sumedang Kenalkan Profesi Sejak Dini.
Pemdes Bawo Ordua Salurkan BLT Tunai Tahap II hingga Desember 2026, Kades Imbau Warga Gunakan untuk Kebutuhan Keluarga
Memprihatinkan! Gedung Puskesdes Desa Makole Rusak Berat dan Tak Difungsikan, Warga Minta Pemerintah Turun Tangan
Kawal Indonesia Emas 2045, Lemhannas RI Ajak Insan Pers Bangun Jurnalisme Kebangsaan
Majelis Adat Sumedang Larang Tegas Tolak Geotermal Tampomas
FWK Menilai KPK Penakut, Pemerintah Tidak Boleh Anti Kritik
Dugaan Pengeroyokan di Aphrodite Luxury Kafe Pati, Korban Dirawat Dan Sudah Menempuh Jalur Hukum
Jaga Keseimbangan Kerja dan Akhlak, Sekretariat DPRD Sumedang Gelar Taklim Aparatur

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Asy-Syatibiiyyah Kunjungi DPRD Sumedang Kenalkan Profesi Sejak Dini.

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 22:30 WIB

Pemdes Bawo Ordua Salurkan BLT Tunai Tahap II hingga Desember 2026, Kades Imbau Warga Gunakan untuk Kebutuhan Keluarga

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 22:22 WIB

Memprihatinkan! Gedung Puskesdes Desa Makole Rusak Berat dan Tak Difungsikan, Warga Minta Pemerintah Turun Tangan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 21:31 WIB

Kawal Indonesia Emas 2045, Lemhannas RI Ajak Insan Pers Bangun Jurnalisme Kebangsaan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:08 WIB

Majelis Adat Sumedang Larang Tegas Tolak Geotermal Tampomas

Berita Terbaru