zonapers.com,
Tasikmalaya.
Batu Lingga Gunung Payung di Manonjaya menyimpan sejarah, tradisi, dan cerita misteri yang terus menarik perhatian masyarakat.
Situs tersebut berada di Dusun Awi Luar, Desa Sirnajaya, Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Masyarakat menyebutnya Batu Lingga Payung karena situs itu berada di kawasan Kabuyutan Gunung Payung yang mereka anggap sakral.
Menurut cerita turun-temurun, kawasan tersebut menyimpan jejak Kerajaan Galuh dan pernah menjadi tempat persinggahan serta pertapaan tokoh kerajaan.
Selain itu, masyarakat mengaitkan situs tersebut dengan Bujangga Manik, tokoh pengembara yang tercatat dalam naskah Sunda Kuno.
Naskah Bujangga Manik mencatat perjalanan seorang tokoh yang mengunjungi berbagai tempat suci di Pulau Jawa hingga Bali dan Sumatera.
Namun, sejumlah cerita lokal menyebut Bujangga Manik sebagai pangeran Pajajaran yang menggunakan nama samaran dalam perjalanan spiritualnya.
Cerita tersebut juga menyebut sang tokoh menetap selama sembilan tahun dan membangun tujuh bangunan untuk mendukung kegiatan pertapaannya.
Menariknya, naskah Bujangga Manik menggambarkan sebuah tempat suci dengan lingga yang memancarkan kilauan seperti permata.
Gambaran tersebut kemudian mendorong masyarakat mengaitkan Batu Lingga Gunung Payung dengan sebutan Lingga Agung.
Meski demikian, pembaca perlu memahami klaim tentang intan dan permata sebagai bagian dari tafsir naskah serta tradisi masyarakat setempat.
Kawasan Gunung Payung juga menyimpan Batu Pangasahan Maung yang menarik perhatian karena bentuknya memiliki tanda menyerupai cakaran.
Selanjutnya, dua pohon Kiara Kursi berdiri dekat gerbang kawasan dan masyarakat setempat memperkirakan usianya mencapai ratusan tahun.
Tidak jauh dari lokasi tersebut, Cikahuripan menjadi tempat masyarakat membersihkan diri sebelum melanjutkan perjalanan menuju kawasan puncak.
Di puncak bukit, masyarakat juga mengenal dua makam kuno sebagai makam Eyang Rama Gumulung Putih dan Eyang Ratu Gumulung Putih.
Masyarakat setempat menghubungkan kedua tokoh tersebut dengan leluhur Galunggung pada masa Batari Hyang.
Hingga kini, masyarakat tetap menjalankan tradisi Nyagara Gunung dan Nyapu Beberesih Kabuyutan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.
Masyarakat biasanya melaksanakan tradisi tersebut pada bulan Maulud tanggal satu hingga sepuluh serta bulan Syaban menjelang Ramadan.
Karena itu, Batu Lingga Gunung Payung menghadirkan perpaduan sejarah, tradisi, situs budaya, dan cerita spiritual yang menarik perhatian.
Namun, penelitian sejarah dan arkeologi tetap diperlukan untuk memastikan asal-usul situs serta memeriksa berbagai klaim sejarah yang berkembang.
Dengan demikian, misteri Batu Lingga Gunung Payung masih menyisakan pertanyaan tentang fungsi situs dan perjalanan tokoh masa lampau.
Redaksi




































































