zonapers. com,Jakarta
Ketua Umum PWI Pusat sekaligus wartawan senior, Hendry Ch Bangun, mengingatkan pentingnya wartawan tetap turun ke lapangan untuk memahami kehidupan masyarakat secara langsung.
Menurutnya, kebiasaan menyambangi pasar, berbincang dengan pedagang, dan mengamati persoalan sehari-hari masyarakat merupakan bagian penting dari proses jurnalistik yang tidak dapat digantikan oleh teknologi maupun konferensi pers.
Pandangan tersebut disampaikan Hendry melalui catatan jurnalistik berjudul “Kapan Terakhir ke Pasar?”, yang berisi refleksi perjalanan panjangnya sebagai wartawan, mulai dari masa menjadi reporter Harian Kompas hingga ikut merintis Harian Warta Kota.
Hendry mengenang, pada masa kejayaan media cetak, wartawan Kompas sering menjadi rujukan dalam berbagai kegiatan karena dianggap mewakili media yang berpengaruh.
Namun, menurutnya, kebanggaan itu justru harus dibarengi dengan disiplin dan etos kerja tinggi, termasuk datang lebih awal ke lokasi liputan agar memahami konteks peristiwa secara utuh.
“Datang lebih awal membuat wartawan bisa menguasai medan, memahami konteks acara, mengenal narasumber, bahkan mengetahui jalur evakuasi jika terjadi keadaan darurat,” tulisnya.
Selama menjadi wartawan olahraga, Hendry meliput berbagai ajang nasional maupun internasional, termasuk SEA Games, Asian Games, Olimpiade, hingga turnamen bulu tangkis dan berbagai kejuaraan dunia.
Ia mengaku selalu berusaha mendekatkan diri kepada atlet dan pelatih untuk memperoleh cerita yang lebih mendalam, bukan sekadar hasil pertandingan.
Ketika bergabung membangun Harian Warta Kota, pendekatan jurnalistiknya berubah.
Dari liputan berskala nasional dan internasional, ia lebih banyak menyusuri kantor kelurahan, kecamatan, hingga pasar tradisional untuk menangkap denyut kehidupan warga Jakarta.
Menurut Hendry, pasar merupakan tempat terbaik bagi wartawan untuk membaca kondisi masyarakat.
Dari pasar, wartawan dapat mengetahui perubahan harga kebutuhan pokok, mendengar keluhan pedagang, hingga memahami persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat kecil.
Ia juga mengisahkan bahwa kebiasaan tersebut diwarisi dari ayahnya, seorang wartawan Harian Waspada di Sumatera Utara pada 1950-an.
Sang ayah selalu memulai liputan dengan mendatangi pasar untuk mencatat harga-harga kebutuhan pokok sebagai bagian dari pemahaman terhadap kondisi masyarakat.
Selama bertugas di Warta Kota, Hendry mengaku rutin mengobrol dengan pedagang beras, penjual buah, tukang jahit, hingga tukang servis jam.
Dari percakapan sederhana itu, ia memperoleh banyak informasi mengenai kehidupan warga yang sering kali luput dari pemberitaan.
Ia juga menyaksikan bagaimana wajah pasar berubah ketika akan dikunjungi pejabat.
Lingkungan yang semula semrawut mendadak menjadi bersih, namun setelah kunjungan selesai kembali seperti semula.
Bagi Hendry, pengalaman-pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bahwa wartawan tidak boleh hanya mengandalkan pernyataan resmi narasumber.
“Jurnalisme yang baik lahir dari kedekatan dengan masyarakat.
Wartawan harus mau mendengar, mengamati, dan memahami kehidupan orang-orang biasa, karena di sanalah banyak cerita penting bermula,” ujarnya.
Melalui refleksi tersebut, Hendry berharap wartawan, terutama generasi muda, tidak kehilangan tradisi turun ke lapangan.
Di tengah perkembangan teknologi digital dan derasnya arus informasi, kehadiran langsung di tengah masyarakat tetap menjadi fondasi utama dalam menghasilkan karya jurnalistik yang akurat, berimbang, dan berpihak pada kepentingan publik
Redaksi







































































