zonapers.com, Tasikmalaya.
Pengabdian tak selalu berakhir bersama jabatan. Nilai keteladanan justru dapat terus hidup melalui keluarga, masyarakat, dan karya yang diwariskan. Hal itu tergambar dalam perjalanan AKBP (Purn.) H. Yono Kusyono, sosok yang akrab disapa “Apih”.
Purnawirawan Polri tersebut dikenal melalui keterlibatannya dalam kegiatan kemasyarakatan, olahraga, dan komunitas otomotif di Tasikmalaya. Ia tercatat aktif di lingkungan Persatuan Purnawirawan (PP) Polri, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), serta komunitas Jeep Willys Galunggung.
Bagi keluarganya, Apih merupakan figur ayah yang menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, persaudaraan, dan semangat pengabdian.

Keluarga dan Jejak Pengabdian
Di balik perjalanan Apih, ada Kurniasari atau Ikeu, sang istri yang turut mendampingi perjalanan keluarga. Keduanya membangun keluarga dengan menanamkan nilai pendidikan, kedisiplinan, dan tanggung jawab kepada anak-anak mereka.
Nilai tersebut tercermin dalam perjalanan kedua putranya. Kolonel Kav. Herman Taryaman, lulusan Akademi Militer tahun 1999, mengabdi sebagai perwira TNI Angkatan Darat dari kecabangan Kavaleri.
Sementara itu, Kompol Sandy Budiman, S.H., S.I.K., M.Si., lulusan Akademi Kepolisian tahun 2007, berkarier di lingkungan Polri dengan pengalaman di bidang hukum kepolisian.
Di luar kedinasan, Sandy menempuh pendidikan doktoral Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Penelitiannya berfokus pada demiliterisasi Polri dan transformasi pendidikan Akademi Kepolisian periode 1999–2004 dalam perspektif reformasi sektor keamanan Indonesia.
Selain kedua putranya, keluarga Apih juga memiliki Ajeng Athiah Kirana, yang pernah berkecimpung di dunia tarik suara sebelum memutuskan berhijrah dan lebih memusatkan perhatian pada kehidupan spiritual.
Perjalanan ketiga anak tersebut memperlihatkan pilihan hidup yang berbeda, tetapi tetap berada dalam ikatan keluarga yang sama.
Lagu sebagai Persembahan untuk Sang Ayah
Kisah Yono Kusyono kini diabadikan melalui lagu berjudul “Haji Yono Kusyono (Apih)”, karya Ithonk Soembang, identitas kreatif yang dikembangkan Sandy Budiman.
Melalui musik bernuansa etnis Sunda, Sandy menghadirkan penghormatan kepada sang ayah sekaligus mengangkat nilai kasih sayang keluarga, perjuangan, dan pengabdian antargenerasi.
Karya tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman personal dengan kekayaan budaya. Penghormatan kepada orang tua, yang memiliki tempat penting dalam tradisi Sunda, menjadi salah satu pesan yang diangkat melalui lagu itu.
Warisan yang Melampaui Jabatan
Perjalanan keluarga Yono Kusyono menunjukkan bahwa pengabdian dapat hadir dalam berbagai bentuk. Herman meniti karier di TNI Angkatan Darat, Sandy berkiprah di kepolisian sekaligus menekuni pendidikan akademik dan musik, sedangkan Ajeng menjalani perjalanan hidup dari seni menuju pendalaman spiritual.
Dari Tasikmalaya, kisah Apih membawa pesan bahwa pangkat dan jabatan bukanlah satu-satunya ukuran pengabdian. Keteladanan, kasih sayang, dan nilai-nilai yang ditanamkan kepada keluarga dapat terus hidup lintas generasi.
Melalui lagu “Haji Yono Kusyono (Apih)”, Sandy Budiman menghadirkan persembahan personal bagi sang ayah—sebuah karya untuk merawat kenangan sekaligus mengabadikan nilai keluarga dan pengabdian dari tanah Sunda.
#Dari nara sumber langsung.
Redaksi.

































































