Iwan Fals: Stop Penebangan Hutan Selama 50 Tahun

- Jurnalis

Selasa, 16 Desember 2025 - 10:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Iwan Fals : Hukum Seberat beratnya Pembalak Liar.


Penyanyi lagendaris Iwan Fals merasa prihatin dan turut berbela sungkawa terhadap korban yang meninggal akibat banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Ia menilai alam tak bisa semata disalahkan. Banjir bandang ini dipicu terjadinya pembalakan liar oleh sejumlah orang yang tidak bertanggung jawab. Demikian disampaikan Iwan Fals ketika diminta pendapatnya soal banjir bandang yang menimpa Aceh, Sumut, dan Sumbar, di Jakarta, Rabu (10/12).

enurut penyanyi yang bernama lengkap Virgiawan Listanto ini, pemerintah harus bertindak tegas terhadap perusahaan dan oknum yang terlibat dalam pembalakan liar. “Katanya negara kita negara hukum. Ya, tegakkan hukum setegak-tegaknya. Hukum seberat-beratnya pelakunya. Jangan ada pandang bulu. Tanpa itu, kejadian akan terus berulang,” kata penyanyi yang sangat peduli terdahap lingkungan hidup ini.

Di album perdana Iwan Fals bertajuk Sarjana Muda, Iwan memang menciptakan lagu berjudul Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak lagi. Lagu itu bercerita tentang penggundulan hutan. Dalam lagu itu, Iwan berpesan ke pemerintah bahwa lestarikan hutan hanya celoteh belaka. Rimba yang dulu perkasa, kini tinggal cerita. Bencana erosi selalu datang menghantui. Tanah kering-kerontang banjir datang itu pasti. Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi.
Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia.

Baca Juga :  Bakamla RI Kembali Gagalkan Penyelundupan Ballpress Ilegal di Perairan Patimban

Pesan itu Iwan sampaikan tahun 1980. Itu berarti sudah 45 tahun lalu. Kini, apa yang dikhawatirkan Iwan benar-benar terjadi menimpa Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Menurut penyanyi yang selalu menanam pohon sebelum pertunjukan (show), saat ini pemerintah harus bekerja sama dengan masyarakat untuk memulihkan keadaan di Aceh, Sumut, dan sumbar. Harus gotong royong untuk memulihkan keadaan.

Bagi mereka yang terdampak banjir — sebagai warga negara — mereka harus mendapat pertolongan dari pemerintah. “Siapa saja silakan membantu. Tetapi, kehadiran pemerintah sangat dibutuhkan. Para korban banjir juga harus mendapatkan tempat tinggal atau hunian yang layak. Ini sangat dibutuhkan demi kelangsungan hidup mereka”, kata Iwan Fals.

Setelah itu, kata Iwan, harus ada kesepakatan bahwa tidak boleh lagi menebang pohon dimanapun di Indonesia selama 50 tahun. Bahkan, bila perlu 100 tahun. Kalau ini tidak dilakukan, Iwan khawatir banjir bandang yang lebih besar bisa terjadi lagi.
Ketika ditanya, mengenai undang-undang soal penebangan kayu ini, Iwan berpendapat tentu sudah ada aturannya. Tapi, banyak yang tidak taat aturan.
Namun, Iwan tetap berpesan agar Dewan Perwakilan Rakyat mengevaluasi lagi undang-undang tersebut. “Undang-undangnya harus tegas dan diterapkan tanpa pandang bulu,” kata Iwan yang pernah menciptakan lagu Tanam-tanam ayo kita menanam pohon. “Ya, mari kita menanam pohon, dengan jenis pohon yang khas di daerah masing-masing,” sambung Iwan.

Baca Juga :  Kapolres Sumedang Pastikan Berita Penculikan Anak SD Di Rancakalong Merupakan HOAX

Sementara itu, koordinator Forum Wartawan Kebangsaan Raja Parlindungan Pane mengatakan, perlu ada badan yang dibentuk pemerintah untuk memulihkan keadaan pasca banjir. Badan ini akan bekerja secara cepat dan tepat untuk memulihkan perekonomian, pendidikan, sosial, dan tentu saja untuk pembanguan infrastruktur yang hancur tersapu banjir.
Raja berpendapat penanganan bencana berskala besar di Pulau Sumatera membutuhkan badan khusus yang fokus menangani kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Presiden Prabowo perlu membentuk Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bencana Aceh, Sumut dan Sumbar,” kata Raja Pane mengimbau pemerintah.

Redaksi.

Berita Terkait

Robinhood, Sapi Asal Sumedang Berbobot 1,4 Ton Taklukkan Kontes Nasional Piala Presiden 2026.
Hukum sebagai Panglima, Bukan Panglima yang Menghukum
Kesiapsiagaan Personel Ops Antik Lodaya 2026, Polda Jabar Pastikan Pelaksanaan Operasi Berjalan Optimal.
Ketua DPRD Sumedang Pastikan Pilkades Digital Serentak, Digelar 28 Oktober 2026, Di 92 Desa, 424 TPS.
Cikoneng Kulon Bersiap Maju, Sunjaya Usung ISTIQOMAH.
Dramatis Sikat Thailand di Final ASEAN Cup 2026, Timnas Indonesia Menang, Kapolda Jabar Ucapkan Selamat
PERPANJANG KONTRAK PPPK PARUH WAKTU SEKRETARIAT DPRD SUMEDANG, TEKANKAN DISIPLIN DAN KINERJA.
“Wabup Fajar Bawa Kabar Baik, Operasi Katarak Eti Gratis”

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:00 WIB

Robinhood, Sapi Asal Sumedang Berbobot 1,4 Ton Taklukkan Kontes Nasional Piala Presiden 2026.

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:31 WIB

Hukum sebagai Panglima, Bukan Panglima yang Menghukum

Jumat, 9 Oktober 2026 - 19:23 WIB

Kesiapsiagaan Personel Ops Antik Lodaya 2026, Polda Jabar Pastikan Pelaksanaan Operasi Berjalan Optimal.

Jumat, 9 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Ketua DPRD Sumedang Pastikan Pilkades Digital Serentak, Digelar 28 Oktober 2026, Di 92 Desa, 424 TPS.

Kamis, 8 Oktober 2026 - 16:33 WIB

Cikoneng Kulon Bersiap Maju, Sunjaya Usung ISTIQOMAH.

Berita Terbaru

Berita

Hukum sebagai Panglima, Bukan Panglima yang Menghukum

Senin, 12 Okt 2026 - 17:31 WIB

Berita

Cikoneng Kulon Bersiap Maju, Sunjaya Usung ISTIQOMAH.

Kamis, 8 Okt 2026 - 16:33 WIB